Istana Sultan Serdang – Sejarah, Lokasi & Ragam Aktivitas

Istana Sultan Serdang – Sejarah, Lokasi & Ragam Aktivitas
Harga Tiket: -; Map: Cek Lokasi
Alamat: Tualang, Kec. Perbaungan, Kab. Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Kesultanan Serdang didirikan pada tahun 1723 dan bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1946. Setelah kontroversi tahta, Kesultanan ini akhirnya berpisah dari Deli pada tahun 1720. Seperti kerajaan-kerajaan lain di pantai timur Sumatera, Serdang berkembang pesat dengan pendirian perkebunan tembakau, karet, dan kelapa sawit.

Kesultanan Serdang ini memiliki istana yang bernama Istana Darul Arif Serdang Bedagai yang didirikan tanggal 29 Juli 1889 oleh Sultan Sulaiman Shariful Alamshah. Sultan sulaiman merupakan raja kelima dalam silsilah kesultanan Serdang. Istana Sultan Serdang ini dibangun diatas lahan yang sangat luas dengan gapura sebagai pintu masuk istana

Sejarah Kesultanan dan Istana Sultan Serdang

Sejarah Kesultanan dan Istana Sultan Serdang
Image Credit: Kba.one

Perubahan sistem pemerintahan, perubahan zaman, penaklukan oleh penguasa, dan peperangan seringkali menjadi beberapa penyebab matinya kerajaan. Kesultanan Serdang memiliki buktinya keberadaannya yaitu dengan adanya istana Darul Arif di Kota Galuh. Istana Kesultanan ini berada di Jalan Jalinsum yang berada di komplek Bupati Sergai

Sebagai awal mulanya, istana ini merupakan tempat tinggal dari keluarga Serdang pada tahun 1889 sampai dengan 1946 yang sebelumnya berdiri di Kota Galuh. Namun banyak yang salah kaprah menilai bahwa istana yang berada di kompleks Bupati Sergai merupakan istana yang asli. Padahal istana tersebut adalah banguanan replika dari istana Serdang

Banyak peninggalan yang berkaitan dengan sejarah Sultan di Serdang yang belum atau bahkan tidak terselamatkan. Beberapa yang masih dapat ditemukan diantaranya Masjid Sulaimaniyah yang berada di Perbaungan, Makan Kesultanan, 2 buah kolam ikan dan juga Kawasan simpang tiga. Nyatanya, bangunan asli dari Darul Arif sudah tidak bisa ditemukan

Namun beberapa sejarawan di Sumatera Utara mengutip bahwa kesultanan yang dahulu berada di Kompleks Kraton Kota Galuh ini merupakan sebuah rumah dengan segala kemegahannya. Melihat hasil gambar-gambar masa lalu, anda dapat melihat bahwa Istana Sultan Serdang ini dibangun dengan gaya rumah tradisional dengan ciri khas Melayu.

Bangunan ini didesain dengan berbentuk rumah panggung setinggi tiga lantai. Selain arsitekturnya yang unik, istana ini memiliki jendela besar, interior antik, dan atap berbentuk setengah kubah. Seni budaya Indonesia melaporkan bahwa penghancuran keraton yang dibangun oleh Sultan Sulaiman Shariful Alamshah pada tanggal 29 Juli 1889, masih dikaitkan dengan gerakan revolusi sosial Sumatera Timur pada tahun 1946.

BACA JUGA:  Istano Silinduang Bulan - Sejarah, Daya Tarik, Lokasi & Ragam Aktivitas

Namun, juru bicara Bupati Serdang Bedagai mengatakan Istana Darul Arif dibakar karena Sultan di Serdang menolak untuk tunduk kepada Belanda saat itu. Itulah mengapa keindahan istana tersebut sudah tidak dapat dinikmati lagi saat ini. Karena kekalahan tersebut lah akhirnya kesultanan Serdang mulai bergabung dengan bangsa Indonesia

Sejarah Kesultanan Serdang Bedagai

Sejarah Kesultanan Serdang Bedagai
Image Credit: Mediacenter.serdangbedagaikab.go.id

Kesultanan Serdang ini berdiri pada tahun 1632 setelah terjadinya tragedi perebutan kekuasan pada masa kesultanan Deli. Pemimpin pertama dari kesultanan ini adalah Tuanku Umar Johan Alamshah yang memulai masa jabatannya pada tahun 1723. Kerajaan ini pun semakin terkenal ketika dikuasai oleh raja yang ketiga yaitu Thaf Sinar Basyar Shah

Ketika Tentara Kerajaan Siak berusaha menaklukkan Kerajaan Melayu di pesisir Sumatera Utara pada tahun 1782, Tuanku Umar atau Raja Osman akhirnya tewas. Makam Tuanku Umar masih berada di tengah-tengah perkebunan Sampali hingga saat ini. Sultan Serdang kemudian diambil alih oleh putranya Tuanku Ainan Johann Alam Shah.

Thaf Basyar Shah merupakan putra dari Sultan Ainan Johan Almshah yang menjadi raja ketiga. Pada masa kepemimpinan dan pemerintahannya, kesultanan Serdang sangat disegani oleh beberapa kerajaan besar yang ada di Indonesia dan luar negeri. Namun, kekuasan tersebut mulai berubah ketika Indonesia memasuki tahun kemerdekaan pada 1945

Saat masa kepemimpinan Sultan Sulaiman Shariful Alamshah, Sultan Serdang ini memutuskan untuk bergabung dengan indonesia. Tepatnya setelah utusan Sultan berkonsultasi dengan TRI pada tahun 1946. Penggabungan kerajaan dan juga kepemimpinan Indonesia ini tidak mengartikan bahwa Kesultanan Serdang menghilang begitu saja

Hingga saat ini, kesultanan Sumatera ini masih tetap bertahan dan berada dibawah kepemimpinan atau kekuasaan dari Serdang Bedagai. Peran yang dimunculkan oleh kesultanan ini sudah tidak sama dengan masa kepemimpinan sebelum melebur dengan bangsa Indonesia. Tuanku Luckman Sinar Basarshah II masih menjabat sebagai sultan sejak tahun 2001 hingga sekarang

Wisata Replika Istana Sultan Serdang

Wisata Replika Istana Sultan Serdang
Image Credit: Google Maps Bambang Eko Listrianto

Pembangunan Replika Istana Serdang ini berada di Kompleks Perkantoran Dinas Pariwisata dan Olahraga Kabupaten. Serdang Bedagai tidak terlepas dari dimulainya Sultan Allahyarham Tuanku Luckman Sinar Basarshah II. Tujuannya agar generasi muda dan pecinta sejarah bisa melihat salah satu keraton Melayu kuno meski zaman terus berubah.

BACA JUGA:  Museum Pusaka Nias - Sejarah, Koleksi, Tiket & Ragam Aktivitas

Bangunan yang meniru konsep desain Istana Darul Arif ini tidak bisa dinikmati oleh segelintir orang saja. Namun, Disbudparpora Sergei mengizinkan wisatawan untuk melihat langsung replikanya. Di depan Istana Darul Arif, sering digunakan sebagai tempat acara budaya dan wisata. Lapangan hijau dan taman kompleks ini tentu sangat lua

Dengan begitu, lapangan ini dapat digunakan berkumpul dan bisa menampung ratusan pengunjung. Kunjungan ke Istana Darul Arif adalah salah satu objek wisata Situs Warisan Dunia Sultan Serdang ini tidak dipungut biaya dan dapat dinikmati secara gratis. Pengunjung kini didominasi oleh mahasiswa yang ingin mengetahui langsung istana dan sejarahnya.

Lantai kedua dari replika Istana Sultan Serdang ini digunakan sebagai tempat museum. Di pintu masuk museum, keindahan futuristik seni tinggi dipamerkan. Bagunan ini merupakan sesuatu yang terbuat dari kayu dengan dua pintu sekitar 4 meter. ketika masuk ke lokasi tersebut, anda akan disambut dengan singgasana replika kesultanan Serdang

Warna dari singgasana tersebut sangat megah dan unik serta menyampaikan pesan dan kesan yang sangat jelas bagi para wisatawan yang berkunjung dan melihatnya. Tidak hanya itu, ada banyak pelengkap harta karun museum seperti peninggalan benda-benda bersejarah Sultan yang sangat berharga, rumah adat, dokumen fotografi, dan bendera kerajaan.

Museum ini seolah memberitahukan bahwa kesultanan Serdang ini memang benar-benar ada dan telah melalui sejarah yang begitu panjang. Anda akan dapat melihat berbagai jenis replika lainnya dan sejarah atau cerita yang tersimpan didalamnya. Anda tidak akan merasa rugi jika mengunjungi tempat ini karena akan banyak memperoleh pelajaran berharga

Mengembalikan Sejarah Melalui Museum Istana Sultan Serdang

Mengembalikan Sejarah Melalui Museum Istana Sultan Serdang
Image Credit: Kovermagz.com

Meskipun kekuasan dari kesultanan ini menguasai kebudayaan melayu, namun sultan membuka seluas-luasnya untuk suku lain bisa menetap di kawasan kesultanan. Akibat, daerah yang dikenal sebagai kabupaten Serdang saat ini dihuni oleh masyarakat dengan berbagai jenis etnis. Bahkan ahli sejarah menunjukkan bahwa memang banyak masyarakat dari luar etnis di tempat ini

Mengingat karena Serdang merupakan jalur perdagangan yang digunakan untuk meningkatkan perekonomian maka dengan menerima berbagai jenis etnis sangat memberikan keuntungan bagi kerajaan. Oleh karena itu, tidak heran jika kesultanan ini mau dan mengizinkan banyak etnis untuk menetap di sebagian wilayahnya

BACA JUGA:  Istana Siak Sri Indrapura - Sejarah, Daya Tarik, Tiket & Ragam Aktivitas

Mayoritas yang menghuni wilayah ini adalah etnis Melayu dan juga Jawa. Namun beberapa diantaranya juga terdapat masyarakat yang berasal dari suku Batak, banjar, dan bahkan Bali. Sebuah museum diperlukan untuk menyimpan dan mengabadikan sejarah serta berbagai adat istiadat pada masa kepemimpinan kesultanan Serdang

Museum Istana Sultan Serdang ini akan mampu memberikan wawasan dan informasi yang lengkap bagi siapapun yang ingin mengetahui sejarah awal mulanya kota Serdang. Museum sejarah ini akan dijadikan sebagai tempat atau etalase bersejarah agar seluruh cerita yang masih ada akan tetap dipegang dan diingat oleh generasi-generasi berikutnya

Isi dari museum ini tidak terlalu monoton dan juga padat karena didominasi oleh perpaduan warna hijau dan kuning yang memberikan kesan keceriaan. Tentunya dengan begitu, museum ini akan dapat meningkatkan minat dari generasi muda untuk mempelajari dan mengetahui berbagai sejarah dari tanah atau negeri tempat kelahirannya

Mengembalikan Di Sejarah Melalui Museum Istana Sultan Serdang
Image Credit: Travel.detik.com

Harapan yang diinginkan oleh para penikmat sejarah adalah lokasi ini tidak hanya dijadikan sebagai tempat arsip sejarah tetapi juga menjadi tempat kunjungan pariwisata bagi para pelajar dan masyarakat umum. Dengan begitu, pemerintah dari Kota Serdang sudah tengah berusaha untuk menetapkan anggaran untuk prioritas pembangunan fisik Museum

Untuk tahap perencanaan telah diselesaikan dengan baik dan saat ini hanya perlu menunggu tahapan pelaksanaan dan pengerjaan pembangunan. Museum ini tidak hanya berupa bangunan kosong saja. Tetapi juga dapat menemukan berbagai jenis replika dari isi istana kesultanan saat itu dengan tambahan beberapa ornamen dan juga artefak sebagai koleksi

Di museum Istana Sultan Serdang saat ini, anda dapat menyaksikan berbagai jenis arsip berupa dokumen penting dari kesultanan Serdang, berbagai foto, sampai dengan film dokumenter yang pernah ada. Selain itu, anda juga dapat menemukan berbagai jenis benda-benda bersejarah lainnya serta beberapa artefak yang akan menambah kelengkapan koleksi

Anda dapat menikmati keindahan dari Istana Serdang ini dalam bentuk bangunan replika. Karena berdasarkan sejarah yang dimiliki, istana ini telah dibakar karena kesultanan Serdang saat itu sangat menentang pemerintahan dari Belanda. Anda dapat mengetahui peninggalan sejarah kesultanan ini pada Museum yang berbentuk Replika Darul Arif Serdang.