Masjid Raya Al Mashun, Masjid Tertua & Bersejarah di Kota Medan

Masjid Raya Al Mashun merupakan salah satu peninggalan bersejarah dan termasuk masjid tertua di Medan. Memiliki gaya arsitektur khas Timur Tengah, India dan Spanyol.

Harga Tiket: Gratis; Map: Cek Lokasi
Alamat: Jl. Sisingamangaraja No.61, Mesjid, Kec. Medan Kota, Kota Medan, Sumatera Utara.

Masjid Raya Al Mashun Medan populer di kalangan para wisatawan dengan sebutan Masjid Raya Medan. Peletakan batu pertama masjid tersebut dipimpin langsung oleh pemimpin Kesultanan Deli yaitu Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam pada tanggal 21 Agustus 1906. Pembangunan masjid selesai pada tanggal 10 September 1909 dengan diawali pelaksanaan Sholat Jumat.

Pembangunan Masjid Raya ini secara keseluruhan menghabiskan total dana satu juta Gulden. Masjid tersebut dibangun dengan sangat megah oleh Sultan Ma’mun, bahkan lebih megah daripada Istana Maimun karena prinsip utama beliau memang kemegahan masjid kerajaan adalah yang paling utama.

Masjid Raya Medan adalah saksi bisu dalam sejarah kehebatan Suku Melayu yang merupakan pemilik Kesultanan Deli pada masanya. Masjid tersebut memiliki bentuk segi delapan dengan sayap di bagian barat, selatan, utara, dan timur. Bangunan masjidnya merupakan perpaduan dari gaya arsitektur khas India, Spanyol, dan Timur Tengah.

Sejarah Masjid Raya Al Mashun Medan

Sejarah Masjid Raya Al Mashun Medan
Image Credit: Instagram.com @hadipramono82

Masjid ini merupakan salah satu peninggalan bangunan bersejarah dari Kesultanan Deli yang terletak di Kota Medan dan telah berusia lebih dari 100 tahun. Hingga saat ini, Masjid Raya Medan masih berdiri kokoh. Sesuai namanya, kata ‘Al-Mashun’ memiliki arti ‘dipelihara’ sehingga masjid tersebut terawat dan terpelihara dengan sangat baik hingga saat ini.

Meskipun bangunan masjid sudah berusia tua, masjid tersebut justru menjadi ikon utama Kota Medan setelah Istana Maimun. Masjid ini adalah bukti nyata di masa kejayaan Kesultanan Deli yang memadukan kebudayaan umat muslim dengan suku melayu. Sultan Ma’mun Al Rasyid menjadikan masjid ini sebagai masjid kerajaan dan terbuka juga untuk tempat beribadah umat muslim lainnya.

Perancang masjid ini adalah seorang arsitek Belanda yang bernama Van Erp. Beliau juga merupakan perancang pusat Kerajaan Deli, Istana Maimun yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari masjid. Sultan Ma’mun memilih Van Erp untuk merancang masjid sekaligus istana karena pada saat itu belum ada arsitek dari pribumi yang dianggap mumpuni.

Proses pembangunan masjid dilaksanakan oleh JA Tingderman yang juga berkebangsaan Belanda. Pada saat itu Van Erp tidak bisa melanjutkan proses pembangunan masjid dan istana karena mendapatkan panggilan dari Pemerintah Hindia Belanda ke Jawa dalam rangka untuk bergabung dalam proses restorasi Candi terbesar di Jawa Tengah, Candi Borobudur.

Masjid Raya Medan juga merupakan saksi sejarah atas penyebaran agama Islam di wilayah Medan, Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara. Di samping masjid yang masih berada di satu kompleks yang sama, terdapat makam keturunan Kesultanan Deli. Sehingga tidak heran jika masjid ini mempunyai sebutan lain bernama Masjid Deli.

Pembangunan masjid pada masa itu menghabiskan total dana satu juta Gulden secara keseluruhan yang dikeluarkan dari kantong pribadi Sultan Ma’mun sendiri. Namun kabarnya, tokoh Kota Medan yang berasal dari etnis Tionghoa bernama Tjong A Fie juga ikut berkontribusi dalam hal pendanaan pembangunan masjid tersebut.

Dengan usianya yang sudah lebih dari 100 tahun, bangunan masjid masih bertahan sangat kuat. Hingga saat ini, masjid tersebut kabarnya belum pernah direnovasi, hanya ditambah sarana penunjang oleh pemerintah setempat dan pihak pengelola masjid dengan tidak mengubah bentuk aslinya. Walaupun bernuansa islami, wisatawan non-muslim juga boleh berwisata ke masjid ini.

Wisatawan non muslim boleh memasuki kawasan masjid tersebut dengan syarat harus mematuhi peraturan dengan mengenakan pakaian yang sopan. Pengunjung perempuan diharuskan menggunakan pakaian tertutup serta mengenakan kerudung atau hijab. Sementara pengunjung laki-laki diharuskan memakai celana panjang supaya terlihat sopan.

Keunikan yang Dimiliki Masjid Raya Al Mashun

Keunikan yang Dimiliki Masjid Raya Al Mashun
Image Credit: Instagram.com @noor3va

Kota Medan mempunyai berbagai wisata bersejarah yang bernuansa religi dan budaya. Salah satu wisata bersejarah tersebut adalah masjid ini yang merupakan destinasi wisata paling ramai dikunjungi oleh wisatawan. Selain Istana Maimun, keunikan yang dimiliki masjid tersebut berhasil mengundang rasa penasaran para wisatawan mancanegara dan luar daerah untuk berkunjung kesana.

1. Wisata Sejarah dan Religi yang Terbuka untuk Semua Agama

Di daerah lain, ada banyak sekali wisata sejarah bernuansa islami yang hanya boleh dikunjungi oleh para wisatawan beragama Islam saja. Namun, wisata bersejarah satu ini boleh dikunjungi wisatawan non muslim dengan syarat mengikuti peraturan yang ada. Bahkan, pengurus masjid ini pun selalu menyediakan ta’jil untuk masyarakat umum di setiap bulan suci Ramadhan.

2. Terletak Satu Kompleks dengan Istana Maimun

Jarang sekali ditemui tempat wisata religi yang berlokasi di kompleks yang sama dengan istana raja. Sultan Ma’mun yang merupakan Raja Kesultanan Deli pada masanya sengaja membuat masjid megah yang berjarak hanya 200 meter saja dari Istana Maimun. Bahkan, bangunan masjidnya lebih megah daripada istananya.

3. Dirancang oleh Arsitek Asal Belanda

Masjid tersebut dirancang oleh arsitek dari Belanda bernama Van Erp. Sultan Ma’mun sengaja meminta Van Erp untuk merancang pembangunan masjid karena arsitek asal pribumi belum ada yang dianggap mumpuni pada masa itu. Namun, Van Erp digantikan oleh JA Tingdeman ketika Van Erp mendapat pekerjaan di Jawa. Mereka berdua sama-sama arsitek asal Belanda.

Bahan untuk Membangun Masjid Raya Medan

Bahan untuk Membangun Masjid Raya Medan
Image Credit: Instagram.com @ladangmedia

Salah satu destinasi unggulan yang berada di Sumatera Utara tersebut begitu megah. Tentunya dengan pemilihan bahan bangunan yang tidak sembarangan. Terlebih lagi perancang masjid tersebut merupakan arsitek asal Belanda yang menjadikan bangunan masjid tersebut sangat mempesona dipandang mata.

1. Lantai dan Tiang Penyangga Terbuat dari Marmer Berkualitas Tinggi

Bahan marmer yang digunakan untuk lantai masjid ini diimpor dari luar negeri. Bahan marmer yang digunakan diimpor dari Jerman dan Italia. Marmer tersebut berkualitas tinggi sehingga penampilan beberapa tiang penyangga masjid dan lantainya terlihat sangat kokoh. Tak hanya penampilannya saja yang kokoh, namun kualitasnya pun tidak tertandingi.

2. Kaca Patri dari Luar Negeri

Jendela-jendela yang ada di masjid tersebut diimpor dari luar negeri. Jendela-jendela tersebut menggunakan bahan dari kaca patri. Pemilihan kaca patri ini diimpor dari Cina. Sehingga kualitas kacanya pun tidak sembarangan. Kaca patri tersebut sangat awet bahkan hingga saat ini pun masih awet.

3. Lampu Gantung yang Unik

Sebagian bahan yang digunakan untuk pembangunan masjid tersebut diimpor dari luar negeri. Selain bahan marmer dan kaca patri, masjid tersebut juga mendatangkan lampu gantung dengan bentuk yang unik langsung dari Prancis. Kualitasnya tidak bisa diragukan lagi sehingga hingga lebih dari satu abad pun lampu gantung tersebut masih sangat awet.

Struktur Bangunan Masjid Al Mashun Medan

Struktur Bangunan Masjid Al Mashun Medan
Image Credit: Instagram.com @ajier.al.aray

Penampilan fisik bangunan masjid tertua dan termegah di Medan tersebut mempunyai desain serta struktur bangunan yang begitu mewah. Luas bangunannya sekitar 5.000 meter persegi dan dibangun di atas lahan seluas 13.200 meter persegi. Perancang arsitektur bangunan masjid ini adalah arsitek yang berasal dari Belanda.

Arsitektur bangunan masjid tersebut merupakan perpaduan dari gaya bangunan khas Spanyol, India, serta Timur Tengah. Bentuk masjid ini yakni segi delapan dengan sayap di bagian barat, timur, selatan, dan utara. Corak bangunannya merupakan campuran dari Melayu, Eropa, Maroko, Serta Timur Tengah.

Bentuk masjid segi delapan tersebut memiliki ruangan dalam yang begitu unik dan berbeda dengan masjid lainnya. Terdapat beranda yang beratap tinggi dengan kubah warna hitam di empat penjuru masjid. Kubah-kubah berwarna hitam tersebut menjadi pelengkap kubah utama yang ada di atap bangunan utama masjid.

Beranda-beranda tersebut dilengkapi dengan adanya pintu utama serta tangga penghubung di antara lantai utama masjid yang dibangun lebih tinggi dengan pelataran masjid kecuali beranda yang berada di sisi mihrab. Bangunan masjid tersebut mempunyai beberapa ruangan seperti ruang utama, gerbang masuk, tempat wudhu, dan menara.

Kubah masjid ini berbentuk sedikit lebih pipih daripada masjid lainnya dan terdapat hiasan bulan sabit yang menciptakan nuansa Moor yang begitu khas. Moor merupakan gaya arsitektur bangunan di Spanyol yang berkembang di bawah pengaruh Islam. Terdapat porch di sisi yang berhadapan di ruang utama.

Perpaduan gaya arsitektur bangunan Melayu, Eropa (Spanyol) dan Mughal (India) terlihat jelas dari penampilan pintu kayu bercat biru dan kuning. Warna kuning merupakan warna khas Melayu. Pintu-pintu masjid mempunyai ornament Spanyol yang bentuknya melengkung dengan kaca patri berukuran besar yang berwarna-warni.

Dinding masjid memiliki prnamen dengan motif ala India. Tiang yang mengelilingi masjid berjumlah 8 dengan bahan dari marmer yang asli didatangkan dari Italia. Kemudian mimbar yang digunakan saat Ramadhan dan sholat Jumat mempunyai corak khas India. Di dalam masjid Anda akan dibuat takjub dengan berbagai ornament serta corak yang begitu unik.

Ketika masuk ke dalam masjid, di bagian pintu masuk jama’ah laki-laki terdapat Al-Qur’an yang sudah berusia. Al-Qur’an tersebut masih dapat dibaca dengan jelas meskipun ditulis dengan tangan dan usianya sudah ratusan tahun. Al-Qur;an berusia tua ini diletakkan di dalam sebuah kotak kaca agar tetap terjaga keutuhannya.

Hampir semua ornamen dan benda-benda yang ada di dalam masjid masih asli sejak tahun 1909 dimana masjid ini pertama kali diresmikan untuk umum. Ornamen serta desain bangunan masjid benar-benar masih dipertahankan ciri khas aslinya, mulai dari mimbar khutbah Imam, mimbar bilal, desain lampu gantung, pintu, semuanya benar-benar masih asli.

Masjid dengan bangunan akulturasi dari berbagai negara ini mampu menampung jama’ah sekitar 1.500 orang. Bagian dalamnya pun lengkap seperti tempat wudhu, ruang ibadah, kantor secretariat, kamar mandi, serta tempat penitipan sandal dan sepatu. Saat ini masjid tersebut sudah dilengkapi dengan perlengkapan multimedia seperti sound system, air conditioner dan lain-lain.

Para wisatawan tidak hanya bisa menikmati keindahan ornamen maupun desain arsitektur bangunan masjid ini saja, namun para wisatawan juga bisa berziarah ke makam keturunan Kesultanan Deli yang berada di samping Masjid Raya Al Mashun Medan. Makam-makam tersebut berada di satu kompleks dengan kawasan masjid. Sehingga wisatawan dapat sekaligus berziarah serta berwisata sejarah.

Dengan keunikan yang dimiliki Masjid Raya Medan, tidak mengherankan jika masjid ini selalu ramai didatangi para wisatawan dari mancanegara maupun luar daerah. Bahkan tidak hanya wisatawan muslim saja yang berkunjung kesini, wisatawan non muslim juga banyak yang berkunjung dengan tujuan untuk berwisata sejarah.