Pakaian Adat Ulos, Baju Khas Kebanggan Suku Batak

Pakaian Adat Ulos, Baju Khas Kebanggan Suku Batak

Sumatera Utara dikenal memiliki keragaman budaya yang dapat terlihat pada pakaian Adatnya. Baju adat yang menggunakan kain Ulos memiliki arti penting dalam adat suku Batak.

Berdasarkan beberapa jenis pakaian adat yang ada di Sumatera Utara, kebanyakan berbahan dasar kain ulos. Suku yang banyak menggunakan jenis busana dengan bahan tersebut adalah Batak, dimana itu merupakan jumlah terbesar selain Jawa dan juga Melayu.

Secara arti kata sendiri “ulos” merupakan terjemahan makna dalam bahasa Indonesia yang berarti “kain”. Ragam warna dan juga corak ditawarkan, tentunya dari semua motif ataupun jenis yang dibuat memiliki pemaknaan filosofis yang tidak dibuat asal-asalan.

Penggunaan, fungsi dan juga jenisnya juga beragam, berikut akan dijelaskan beberapa informasi yang berkaitan dengan hal tersebut.

Sejarah Pakaian Adat Ulos

Pakaian Adat Ulos
Image Credit: Budayanesia.com

Sejarah terkait keberadaan kain ulos dimulai pada sekitar abad 14, sebagai hasil kedatangan alat tenun dari India. Penggunaan awal yaitu sebagai penghangat badan, karena nenek moyang suku Batak sebagai penemu pertama, hidup di daerah pegunungan yang tentunya cukup dingin terutama saat malam hari. Berdasarkan hal tersebut kemudian, masyarakat menjadikannya sebagai satu simbol kehangatan.

Keyakinan orang Batak pada masa lalu terkait tiga unsur dasar dalam kehidupan juga menjadi satu faktor utama akan keberadaan kain Ulos. Diyakini bahwa dalam kehidupan ini terdapat napas, darah, dan juga panas. Setiap manusia secara alami telah diberkati oleh Tuhan dengan darah dan juga napas untuk menjalani hidupnya. Namun, tidak dengan panas, yang didapatkan dengan usaha atau dari tempat lain.

Karena tempat tinggal yang berada di dataran tinggi sehingga panas dari matahari tidaklah cukup untuk memberikan kehangatan saat malam tiba. Kemudian dengan memanfaatkan alat tenun dari India yang baru datang penghangat badan baru yaitu kain ulos.

Perkembangan, sosial masyarakat dan juga gaya hidup yang dijalani, sehingga penggunaan untuk kain tidak lagi hanya sebagai penghangat tubuh di kala malam hari. Fungsinya berganti menjadi simbol kasih sayang antara orang tua terhadap anaknya. Perubahan ini diberi istilah “Ijuk Penghiot ni bodong” yang berarti tali pengikat cinta.

Setelah itu muncullah budaya Batak baru yang diberi nama “mangulosi” dimana dalam hal ini orangtua akan memberikan ulos kepada anaknya. Kegiatan tersebut menjadi satu tradisi untuk pemberian restu kepada anak-anaknya dalam sebuah rangkaian upacara pernikahan.

Selain itu, perlu diketahui juga bahwa pada sejarahnya, ulos menjadi salah satu jembatan penghubung pada setiap marga yang ada untuk mengenali siapa leluhurnya. Mengapa demikian? karena setiap ulos yang dimiliki oleh marga berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Pada penyematannya terdapat sebuah petuah berupa nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhurnya secara turun temurun.

BACA JUGA:  8 Tempat Wisata di Labuhanbatu Selatan Terbaru & Terhits Dikunjungi

Keunikan Pakaian Adat Ulos

Keunikan Pakaian Adat Ulos Batak
Image Credit: Blog.topindonesiaholidays.com

1. Warna yang Beragam dan Memiliki Makna Filososfis

Pakaian adat ulos memiliki perpaduan warna yang indah dan penuh dengan makna filosofis. Warna yang paling dominan yaitu merah, hitam, dan juga putih. Dimana ketiganya memiliki pemaknaan akan sebuah simbol nilai yang ingin disampaikan dalam pesan yang tidak langsung.

2. Proses Pembuatannya Cukup Lama dan Tidak Mudah

Sebagai satu warisan budaya dari suku Batak, pembuatan dari ulos sendiri juga cukup memakan waktu dan juga membutuhkan ketrampilan lebih agar menghasilkan motif dan juga kain yang bagus, Tahapan yang dilakukan juga diperlukan untuk dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar mahir pada bidangnya. Tidak hanya satu atau dua orang, pengerjaannya memerlukan beberapa tenaga yang bekerja pada bagiannya masing-masing.

Inilah kenapa kemudian pakaian adat ulos memiliki keunikan dari segi perpaduan warna, tekstur, hingga desain yang dimilikinya. Sehingga tidak heran jika kerajinan kain ulos sebagai bahan dasar pakaian adat ulos dilakukan atau dikerjakan dengan cara turun-temurun. Dengan tujuan agar hasilnya tetap konsisten dan memiliki pemaknaan filosofis yang sama.

Material Membuat Pakaian Adat Ulos

Material Adat Ulos
Image Credit: Facebook.com @rosita.simbolon.792

1. Benang

Bahan dasar ulos ini tentu sudah tidak asing lagi di kalangan Anda, yaitu benang. Dahulu untuk mendapatkannya dilakukan dengan melakukan pemintalan kapas. namun, saat ini sudah banyak yang menggunakannya dengan bentuk jadi dari pabrik sehingga tidak lagi menggunakan cara lama.

2. Pewarna

Sebagai bahan untuk memperindah tampilan maka dibutuhkan sebuah warna tambahan. Karena akan sangat membosankan dan tidak menarik ketika hanya menggunakan warna dasar dari benang yaitu putih.

Pewarna yang digunakan biasanya dibuat dari tumbuhan bernama nila “salaom”. Prose pembuatannya sendiri dilakukan dengan cara menfermentasikannya di dalam sebuah priuk tanah yang diisi oleh air.

3. Alat Tenun

Alat yang harus disediakan untuk memulai pembuatan yaitu alat tenun. Dimana ini akan digunakan untuk memintal benang menjadi kain yang siap untuk digunakan dalam beberapa kegunaan.

Desain, Struktur & Cara Membuat Baju Adat Ulos

Desain, Struktur Baju Adat Ulos
Image Credit: Facebook.com @rosita.simbolon.792

Sebagai salah satu simbol suku Batak yang kini diakui secara nasional sebagai warisan budaya leluhur, tidak ada salahnya untuk Anda menengok bagaimana proses pembuatannya. Berikut adalah beberapa ulasan dan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam memintal dan juga mendesain motif pada kain Ulos.

1. Membuat Benang

Langkah paling awal dan utama dalam pembuatan kain Ulos adalah memintal benang menjadi serat-serat kain yang padat. Proses yang terjadi ada tahapan ini adalah dengan melakukan pemintalan terhadap bahan dasar utamanya yaitu kapas.

Kegiatan ini dinamai dengan istilah “mamapis” dimana alat yang digunakan disebut “sorha”. Sebelum menuju tahapan tersebut, hal pertama yang biasanya dilakukan adalah menghampas “dibebe”.

Kapas yang dimaksudkan tadi dibebe supaya bisa mengembang, sehingga ketika proses pemintalannya lebih mudah. Selain itu, metode tersebut ditujukan agar benang yang dihasilkan memiliki ukuran yang seragam. Setelah itu, barulah dimulai proses pemintalan benang, biasanya dilakukan oleh dua orang, dimana satu orang memintal dan satu lagi memutar sorha.

BACA JUGA:  10 Oleh-Oleh Khas Sibolga yang Paling Populer

Sorha sendiri dalam bentuknya sudah disederhanakan dari model awal diadopsi dari sebuah teknologi yang dibawa oleh Jepang. Sehingga pada jenis yang lebih modern tenaga yang dibutuhkan hanya cukup satu orang. Dengan demikian, pekerjaan bisa dilakukan dengan menghasilkan lebih banyak lagi hasil pintalannya.

2. Gatip

Proses sebelum pewarnaan dilakukan yaitu melakukan desain motif pada permukaan kain ulos agar terlihat lebih estetis dan menarik. Penciptaan corak atau gambar yang ada dilakukan ketika masih dalam bentuk benang, dimana dikerjakan dengan menguntai kemudian dibuat menjadi humpalan.

Untuk beberapa serat benang yang diinginkan untuk tetap memiliki warna putih biasanya akan diikat. Pengikatan dilakukan menggunakan serat dan atau daun serai.

3. Unggas

Proses yang disebut dengan ungas ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan sentuhan cerah pada kain yang akan dibuat. Mengapa demikian? karena biasanya setelah selesai dipintal warna yang dihasilkan akan cenderung kusam, sehingga akan tidak bagus untuk diwarnai dengan warna merah ataupun hitam.

Orang-orang yang melakukan kegiatan pada proses ini disebut dengan julukan lapangan “pangunggas”. Sedangkan alat yang digunakan adalah “pangunggasan”. Proses yang perlu dilakukan pada tahapan ini yaitu dengan melakukan pelumuran benang menggunakan nasi yang sudah berbentuk lumer atau dilumerkan sebelumnya. Alat yang digunakan untuk meratakannya yaitu kuas berbentuk bulat yang terbuat dari ijuk.

Untuk nasi yang dilumerkan tadi biasanya disebut dengan istilah “ indahan ni boning”. Proses ini bisa membuat cerah dan memberi kesan cemerlang karena olesan tadi membuat benang menjadi lebih kenyal, sehingga terurai dengan baik ketika dijemur dan menghasilkan warna bagus.

4. Ani

Setelah proses ungas proses selanjutnya yaitu penguntaian benang atau “mangani”. Pada proses ini hal pertama yang harus dilakukan agar mempermudah pengerjaannya yaitu dengan cara menggulungnya ke dalam bentuk seperti bola “dihuhul”. Selanjutnya proses ani bisa dilakukan dengan kepiawaian orang yang bertugas dalam kegiatan ini yaitu “pangani”.

5. Pewarnaan

Setelah benang sudah selesai dipintal, langkah selanjutnya dalam pembuatan kain ulos adalah perwarnaan. Karena warna dasar dari kapas yang putih sehingga dibutuhkan penambahan sentuhan warna merah yang disebut dengan istilah “manubar” dan putih “mansop” sebagai ciri khasnya.

BACA JUGA:  Masjid Raya Al Mashun, Masjid Tertua & Bersejarah di Kota Medan

Terkait dengan bahan yang digunakan dahulu nenek moyang mengambilnya dari alam berupa dedaunan dan sejenisnya, dengan cara difermentasi. Proses pembuatan pewarna dengan cara fermentasi tersebut disebut dengan istilah “Itom”.

Seiring berkembangnya zaman, ada yang menggunakan pewarna tekstil. Namun, sampai saat ini pewarnaan alami tersebut masih bisa ditemui di pasaran Toba. Orang-orang yang melakukan kegiatan tersebut kemudian dijuluki dengan sebutan “parsigira”.

6. Tonun

Tonun merupakan proses dimana seseorang akan melakukan pembentukan benang menjadi sebuah kain. Kegiatan ini akan menghasilkan sehelai ulos yang indah dan menarik sesuai keberhasilan yang ditentukan oleh ‘Pangani”. Pada kondisi ini biasanya sudah bisa dikatakan sebagai partonun”.

7. Sirat

Proses terakhir pada pembuatan kain Ulos ini dinamakan dengan istilah sirat. Prosesnya untuk menjadikan menjadi kain utuh diberi sebutan “manirat”. Sedangkan untuk orang yang melakukan kegiatan ini atau yang mengerjakan disebut dengan panggilan “panirat”. Biasanya hasilnya akan digunakan untuk hiasan pada ikatan rambu dengan motif yang berbentuk gorga.

Jenis-Jenis Kain Ulos

Jenis-Jenis Kain Ulos
Image Credit: Simarmata.or.id

1. Ulos Bintang Maratur

Jenis ini merupakan yang paling banyak digunakan dan ditemukan pada acara adat suku Batak. Biasanya akan diberikan pada seorang anak yang akan memulai kehidupan baru atau menempati rumah baru. Tujuannya yaitu memberikan simbol kebanggaan. Karena memiliki rumah sendiri berarti menunjukkan kemandirian dari seorang anak yang sudah tumbuh.

Selain itu juga akan diberikan kepada seorang yang sedang hamil 7 bulan. Biasanya juga akan kembali diberikan kepada bayi yang baru lahir sebagai alat gendongan “parompa”. Dimana pemaknaan di dalamnya yaitu harapan agar kelahiran ini akan diiringi dengan kelahiran anak selanjutnya.

2. Ulos Pinucaan

Pada jenis ini biasanya digunakan dalam pembuatan pakaian adat suku Batak. Dimana terdapat lima bagian yang saat proses penenunannya dibuat secara terpisah dan disatukan kembali menjadi jalinan baru yang rapih.

Penggunaannya diantaranya, pertama yaitu dipakai dengan cara dililit sebagai hiasan badan oleh wanita saat sedang menghadiri sebuah pesta. Kemudian juga akan digunakan oleh rakyat biasa saat mengikuti atau menghadiri upacara pernikahan. Selain itu juga akan digunakan Raja Adat saat menghadiri acara adat.

Itulah beberapa fakta terkait keunikan, dan juga berbagai hal yang berkaitan dengan pakaian adat ulos. Keindahan budaya leluhur tercermin dengan jelas dari bagaimana motif dan juga perpaduan warna yang ditonjolkan pada bagian kainnya. Bukan sekedar sebuah pakaian ataupun kain saja, namun lebih dari itu merupakan simbol kemegahan berfikir dan juga bagusnya nilai-nilai yang ditanamkannya.