3 Rumah Adat Bangka Belitung & Keunikannya

3 Rumah Adat Bangka Belitung & Keunikannya

Bangka Belitung barangkali mulai terkenal dengan keindahan alamnya yang memukau di kalangan para wisatawan. Namun, tahukah Anda bahwa pulau ini menawarkan lebih banyak keunikan? Dari kuliner penggugah selera, pantai-pantai indah memesona, hingga tradisi dan budaya yang penuh makna.

Jika Anda memiliki kesempatan berkunjung ke Bangka Belitung, pastikan untuk melihat bagaimana kebiasaan masyarakat setempat, seperti rumah tradisional. Menjadi bagian dari pecahan Sumatra Selatan, pulau ini cenderung mengadopsi gaya arsitektur rumah adat dari provinsi tersebut. Artinya, mayoritas memang menghadirkan konsep melayu.

Meski demikian, tentunya provinsi di sisi timur Pulau Sumatra ini mempunyai keunikannya sendiri. Tidak hanya dihiasi oleh desain khas melayu, itu juga menerima pengaruh dari era kolonial dan Tionghoa. Pada dasarnya, untuk tahu bagaimana kondisi nyata rumah adat tradisional di Bangka Belitung, jauh lebih mudah jika berkunjung langsung ke lokasi.

1. Rumah Rakit

Rumah Rakit
Image Credit: Facebook Salbianto

Dari namanya, barangkali Anda sudah membayangkan bahwa hunian tradisional ini mengapung di atas permukaan air menggunakan bantuan rakit. Sejalan dengan kondisi geografis Bangka Belitung yang hampir didominasi oleh kawasan perairan dan menghubungkan sejumlah pulau kecil, tidak perlu heran terhadap konstruksi Rumah Rakit.

Pembangunan Rumah Rakit memang pada mulanya ditujukan untuk memudahkan masyarakat setempat dalam beradaptasi. Hadirnya hunian jenis ini sebagai bentuk daya survival terhadap keadaan lingkungan sekitar. Meski cenderung rawan terdampak musibah berupa bencana alam, tetapi penduduk lokal sudah memperkirakan untung ruginya.

Dari segi catatan sejarah, kabarnya Rumah Rakit menerima pengaruh dari Palembang, di mana tempo dulu Kesultanan Palembang memberlakukan larangan bagi penduduk asing yang merupakan keturunan Tionghoa untuk bermukim di daratan. Sebagai imbasnya, mereka pun membuat perkampungan sendiri di sepanjang Sungai Musi.

Dalam hal penamaan, tidak terlepas dari fondasi bangunan yang ditopang oleh tumpukan balok bambu atau kayu. Setiap sudut dipasangi tiang dari material kayu agar tidak mudah berpindah akibat gerakan ombak. Tidak hanya itu, ditambahkan pula pengaman lain berupa tali rotan guna mengikat bangunan sederhana ini di sisi tebing sungai.

Rumah Rakit Bangka Belitung
Image Credit: Facebook Indonesia Khatulistiwa

Komponen menarik lainnya, Anda akan menemukan hunian berbentuk bujur sangkar di mana ukurannya terbilang mungil. Bagian atap memanfaatkan anyaman dedaunan, serta hanya mempunyai dua pintu, masing-masing terhubung ke tengah sungai dan tepinya. Jika pemilik rumah hendak menuju daratan, maka dapat melewati jembatan.

Keistimewaan lain dari Rumah Rakit adalah rancangan konstruksi yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak mudah rusak meski diterjang banjir. Secara umum, sebenarnya bangunan konvensional ini amat sederhana. Anda hanya akan mendapati dua ruangan, di mana masing-masing berfungsi untuk mengakomodasi aktivitas harian dan tempat beristirahat.

Sementara untuk dapurnya, itu ditempatkan di luar rumah. Di sisi lain, bobotnya pun cenderung ringan sehingga tampak mengapung di atas permukaan air. Bagi Anda yang senang menikmati pemandangan dari tengah perairan, Rumah Rakit sungguh layak dikunjungi. Bahkan, jika diberi kesempatan untuk menginap, ambil itu dan rasakan segala sensasinya.

Berikutnya, tidak lengkap jika belum menyertakan filosofis di balik konstruksi suatu bangunan. Melalui Rumah Rakit, Anda akan belajar arti musyawarah dalam sebuah keluarga, di mana kerap melibatkan pasangan suami istri, tetangga, serta orang tua pihak-pihak terkait.

Musyawarah tersebut harapannya dapat menimbulkan sikap saling menghargai dan menghormati. Meskipun sejarah pendirian Rumah Rakit dilandasi oleh larangan Kesultanan Palembang di masa silam, tetapi itu justru menjadi cikal-bakal bagi generasi setelahnya untuk menumbuhkan sikap persatuan dan kesatuan.

2. Rumah Panggung

Rumah Panggung
Image Credit: Twitter Kamera Budaya

Bagi masyarakat di pedesaan, tampaknya nama Rumah Panggung sudah tidak asing lagi. Betapa tidak, konstruksi jenis bangunan ini bisa ditemukan di banyak tempat di seluruh Indonesia, contohnya seperti di Sulawesi. Namun demikian, apa yang ada di Bangka Belitung pastinya punya perbedaan dan filosofi sendiri.

Rumah ini kabarnya mengambil konsep arsitektur Melayu Awal, di mana terdapat sejumlah tiang berukuran kecil di hampir setiap sisi bangunan, serta satu tiang berukuran jumbo. Kemudian, konsep khas Melayu Awal tersebut melebur bersama desain Tionghoa, tepatnya di bagian atap.

Harus diakui, Bangka Belitung adalah provinsi yang kaya akan etnis, dan Tionghoa, termasuk di antaranya yang mudah Anda temukan ketika berkunjung ke provinsi hasil pemekaran dari Sumatra Selatan ini.

Dalam proses pendiriannya, itu senantiasa memanfaatkan material alami seperti daun, alang-alang, akar pohon, kayu, rotan, hingga bambu. Pembagiannya secara umum, dinding memanfaatkan material kulit kayu atau bambu, bagian lantai disusun oleh kayu, sementara atapnya menggunakan ijuk atau daun rumbia.

Tidak hanya itu, Anda juga akan mendapati banyak jendela di dinding rumah. Tujuannya untuk memperlancar sirkulasi udara sehingga membuat bagian dalamnya tetap adem, mengingat Pulau Bangka mempunyai kondisi cuaca relatif menyengat. Bagaimanapun, hunian memang sudah semestinya nyaman dan memberikan rasa aman bagi pemiliknya.

Lalu, bagaimana dengan klasifikasi ruangannya? Ternyata, Rumah Panggung milik Bangka Belitung mempunyai empat ruangan utama. Pertama, itu adalah bagian depan yang merangkap sebagai lokasi perjamuan jika ada tamu yang berkunjung. Kedua, adalah ruang induk, di mana dijadikan tempat perkumpulan keluarga inti.

Rumah Panggung Bangka Belitung
Image Credit: Twitter Yohana Bella Arista

Ketiga, adalah loss atau ruang penghubung antara kamar penghuni dengan ruang induk. Harapannya ini bisa menambah kedekatan bagi sesama anggota keluarga karena akan sering bertemu dengan atau tanpa sengaja. Keempat, di bagian paling belakang dibuat khusus untuk aktivitas rutin harian, seperti memasak, mandi, makan, dan menyimpan barang.

Hanya saja, perlu dipahami, tidak semua Rumah Panggung didesain dengan klasifikasi semacam itu. Semuanya memang kembali kepada preferensi pemiliknya, walaupun secara umum demikian adanya. Namun, kadang tuan rumah hanya menyediakan ruang depan dan ruang induk, sementara aktivitas harian dilaksanakan di hulu sungai.

Selain itu, rumah ini kabarnya tidak boleh diberikan tambahan warna seperti cat, melainkan wajib mempertahankan kondisi alami dari material yang dipakai. Misalnya, jika sejak awal memanfaatkan kayu berwarna cokelat tua, maka harus dikontrol agar tetap demikian adanya. Aturan semacam ini mengandung filosofis mendalam perihal kesederhanaan.

Masyarakat setempat berusaha untuk menjaga kesetaraan di antara sesamanya, tidak mengklasifikasikan status sosial berlandaskan tampilan hunian. Di sisi lain, arti kesederhanaan juga dipandang sebagai salah satu komponen tidak terpisahkan dari persatuan.

Jadi, ketika mengunjungi Rumah Panggung di Bangka Belitung, barangkali Anda akan menemukan kemiripan desain di antara hunian serupa.

Hanya saja, bisa jadi pandangan filosofis tersebut juga telah mengalami penyesuaian dengan perubahan zaman, dimana nilai-nilai masa lalu dirancang agar beradaptasi terhadap pola hidup masyarakat yang dinamis.

Di sisi lain, tidak ada aturan baku mengenai seberapa besar warga setempat diizinkan membangun hunian. Mereka bisa mendirikan Rumah Panggung sekecil atau seluas mungkin, tinggal menyesuaikan dengan budget dan lahan yang tersedia.

3. Rumah Limas

Rumah Limas
Image Credit: Twitter Culture Of Indonesia

Penamaan rumah ini menyesuaikan bagian atapnya yang berbentuk seperti limas. Ciri khas utamanya adalah bangunan berukuran luas serta terbagi atas beberapa tingkatan. Secara umum, konstruksi Rumah Limas mengadopsi kebudayaan khas Sumatra Selatan.

Untuk material penyusunnya, Anda akan mendapati bahan-bahan alami seperti berbagai jenis kayu. Dari lantai, dinding, hingga pintu, semuanya memanfaatkan kayu tembesu, di mana kerap tumbuh di Provinsi Sumatra Selatan. Hal ini karena jenis tumbuhan tersebut diyakini cukup kuat hingga mampu bertahan menghadapi perubahan cuaca selama bertahun-tahun.

Desain Rumah Limas menghadirkan sejumlah lantai atau umumnya juga disebut kekijing. Pertama, pagar tenggalung yang merupakan ruangan biasa tanpa dilengkapi pagar pembatas, kerap dipakai untuk menjamu tamu selama pelaksanaan acara adat. Kedua, jogan di mana menjadi lokasi khusus perkumpulan para pria.

Ketiga, ada pula ruangan untuk menerima sanak saudara berusia lanjut, sementara kekijing keempat dipakai menjamu undangan yang berasal dari kerabat terdekat dan biasanya dihormati, misalnya datuk.

Di lain pihak, kekijing kelima masih dibagi ke dalam beberapa ruangan lagi karena ukurannya paling luas. Ada pangkeng yang merangkap jadi pemisah antar ruangan, amben tetuo atau lokasi berkumpulnya keluarga inti, serta danamben atau tempat melaksanakan musyawarah.

Rumah Limas Bangka Belitung
Image Credit: kompas.com

Selain konstruksi yang bertingkat dan memiliki berbagai macam fungsi, Rumah Limas juga menyajikan makna filosofis di baliknya. Adanya lima tingkatan ternyata merepresentasikan level kehidupan di tengah masyarakat. Mulai dari martabat, bakat, pangkat, usia, hingga jenis kelamin.

Bukan hanya itu, Rumah Limas dijadikan pula penanda garis keturunan pemiliknya. Tingkat ketiga dipakai oleh raden, kedua dibuat khusus massagus dan kemas, serta tingkat pertama dirancang bagi kalangan kiagus.

Jika Anda melihat ke bagian atap Rumah Limas, umumnya pun akan mendapati ornamen berupa tanduk yang dihiasi melati. Itu mencerminkan mahkota di mana erat kaitannya dengan keagungan dan kerukunan. Dua komponen penting yang dijaga dan dipertahankan oleh masyarakat setempat dari masa ke masa.

Kini, sedikit banyak Anda telah mengenal rumah adat Bangka Belitung meski belum berkunjung ke provinsi tersebut secara langsung. Ke depannya, jika punya kesempatan mengamati dari dekat, jangan lupa untuk mengabadikan momen lewat lensa dan berbagi di media sosial!