Rumah Bolon, Rumah Adat Suku Batak di Sumatera Utara

Rumah Bolon, Rumah Adat Suku Batak di Sumatera Utara

Rumah Bolon adalah salah satu rumah adat suku Batak yang unik. Rumah tradisional yang dahulu menjadi tempat tinggal raja-raja di Sumatera Utara yang berbentuk panggung dan berbahan utama kayu.

Map: Cek Lokasi
Alamat: Siaro, Kec. Siborong-Borong, Kab. Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Rumah Bolon merupakan rumah adat suku Batak, Sumatera Utara. Tidak hanya sebagai hunian, rumah adat tersebut juga banyak dicari khususnya bagi wisatawan luar pulau Sumatera. Rumah yang juga disebut sebagai rumah Gorga ini memiliki sejarah dan filosofi tersendiri bagi Suku Batak.

Bagi masyarakat Batak rumah tersebut melambangkan status atau kelas sosial yang dimiliki. Rumah Bolon sendiri terdiri dari beberapa jenis yang berbeda sesuai dengan suku Batak tersebut.

Suku Batak yang berada di Tapanuli terbagi menjadi beberapa golongan yaitu Batak Pakpak, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Angola dan Batak Mandailing. Maka jangan heran jika setiap bangunan memiliki bentuk atau ciri khas yang tidak sama.

Sejarah Rumah Adat Bolon

8 Rumah Adat Sumatera Utara & Keunikannya
Facebook.com @edi.sihombingberesilalahi

Sudah menjadi rahasia umum jika rumah Bolon merupakan rumah adat yang sangat berarti bagi suku Batak. Rumah adat ini yang kini menjadi tempat tinggal masyarakat suku Batak, dulunya merupakan tempat dimana para 13 Raja Sumatera Utara tinggal.

Beberapa Raja yang tinggal diantaranya yaitu Raja Bakkaraja, Raondop, Karel Tanjung, Rajaulann, Nagaraja, Rahalim, Ranjinman, Baringin, Batiran, Mogam, Hormabulan, Atian dan Bonabatu.

Rumah Bolon dibedakan menjadi beberapa jenis tergantung dengan suku yang tinggal di dalamnya. Namun jenis rumah adat ini yang kini dapat ditemui yaitu Bolon Jabu Batara Siang dan Bolon Jabu Ereng. Jabu Batara siang merupakan jenis rumah adat yang memiliki banyak ukiran atau hiasan. Sedangkan Jabu Ereng adalah rumah adat yang tidak mempunyai hiasan.

Keunikan yang Dimiliki Rumah Bolon

Keunikan Rumah Bolon
Image Credit: Twitter.com @kaca_piring_259

1. Ukiran

Bagian yang paling menarik dari rumah adat Bolon yaitu adanya ukiran yang berbentuk sangat unik. Ukiran atau ornamen tersebut biasa disebut dengan Gorga. Setidaknya ada 3 jenis Gorga yang hadir di rumah adat tersebut dengan makna tersendiri. Berikut ini adalah macam-macam Gorga beserta penjelasannya:

  • Ukiran Bergambar Kerbau

Gorga berbentuk kerbau ini melambangkan rasa terima kasih masyarakat Batak atas kehadiran kerbau. Mereka mengucapkan terima kasih karena para kerbau telah membantu untuk bertani maupun mengurus ladang.

  • Ukiran Bergambar Cicak

Ukiran atau Gorga berbentuk cicak bermakna cara bertahan hidup. Dimana pun dan kapan pun Suku Batak berada mereka harus bisa bertahan hidup bahkan di perantauan yang cukup jauh sekalipun. Selain itu, di daerah manapun suku Batak bertemu diharap bisa menjalin tali persaudaraan sehingga tidak akan terputus jika suatu saat bertemu.

  • Ukiran Bergambar Ular

Masyarakat Batak sangat menghargai dan menjunjung tinggi makna leluhur. Begitu juga dengan filosofi ular yang terdapat pada ukiran. Mereka percaya bahwa ular dapat membawa keberuntungan apalagi jika ia masuk ke dalam rumah, maka sang pemilik rumah akan mendapatkan rejeki yang melimpah.

2. Jumlah Anak Tangga

Rumah Bolon merupakan rumah panggung yang mana untuk masuk ke rumah adat tersebut membutuhkan tangga. Uniknya tangga yang terdapat pada hunian tersebut jumlahnya selalu ganjil.

3. Atap yang Lancip

Hal unik lain dari rumah Bolon ini yaitu bagian atapnya yang lancip. Ujung lancip di bagian depan jauh lebih panjang jika dibanding atap bagian belakang. Suku Batak memiliki keyakinan bahwa atap yang lancip ini mampu menahan dan melindungi bangunan akan angin yang datang dari arah danau.

Atap pada rumah adat batak ini juga dijadikan sebagai tempat menyimpan benda pusaka sehingga banyak yang menganggap bahwa atap adalah bagian keramat dalam rumah.

Selain itu, menurut kepercayaan suku Batak bentuk atap yang lancip tersebut juga sebagai doa. Adapun doa yang diharapkan yaitu agar kelak keturunan penghuni bisa hidup lebih makmur serta sukses lebih dari sekarang.

4. Tidak Menggunakan Paku

Alih-alih menggunakan paku untuk menghubungkan setiap bagian rumah, suku Batak justru menggunakan tali. Tali tersebut direkatkan dengan kuat pada kayu sehingga saat bangunan telah lama atau terserang angin rumah tak akan roboh dan kayu tidak longgar.

Bahan untuk Membuat Rumah Bolon

Bahan Rumah Bolon
Image Credit: Twitter.com @anansmr24

1. Kayu

Dari kejauhan sudah diketahui bahwa rumah Bolon ini sebagian besar terbuat dari kayu. Mulai dari tiang penyangga, dinding, hingga alas semua terbuat dari kayu. Kayu dianggap sebagai material yang kuat dan bisa bertahan lama. Oleh sebab itu, suku Batak memilih material kayu agar huniannya lebih kokoh.

2. Ijuk

Penutup atap rumah adat tidak menggunakan genteng atau sejenisnya melainkan ijuk. Ijuk atau daun kering menjadi khas rumah adat batak ini karena bisa memberikan efek yang sejuk untuk ruangan. Selain itu, bahan ijuk ini sangat awet yang bahkan bisa mencapai puluhan tahun. Hal tersebut disebabkan, ijuk tidak dapat cerna oleh mikroorganisme.

3. Tali

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa rumah adat Batak ini tidak menggunakan paku untuk merekatkan setiap bagian-bagiannya melainkan menggunakan tali. Bahan tersebut digunakan karena paku kemungkinan bisa berkarat sedangkan tali yang direkatkan sangat kuat bisa mencegah longgarnya kayu.

4. Batu

Rumah Bolon menggunakan bahan-bahan yang telah disediakan oleh alam. Tidak hanya kayu, tali dan ijuk masyarakat Batak juga menggunakan batu sebagai pondasi rumah. Batu yang bersifat kuat dapat menjadi tumpuan tiang kayu.

Struktur Bangunan Rumah Bolon

Struktur Bangunan Rumah Bolon
Image Credit: Rumahadat.blog.com

1. Pondasi

Bagian paling untuk mendirikan sebuah rumah adalah pondasi. Suku Batak menggunakan batu dengan tipe cincin sebagai pondasinya. Batu tersebut digunakan sebagai tumpuan berdirinya tiang kayu sehingga mampu menahan beban bangunan. Tiang dijadikan tumpuan umumnya memiliki diameter antara 42 hingga 50 cm.

Ukuran rumah Bolon yang cukup besar juga turut berpengaruh pada jumlah tiang kayu yang digunakan sebagai penyangga. Setidaknya terdapat sekitar 18 tiang kayu berdiri tegak yang berguna untuk menyangga beban. Jumlah tiang tersebut juga memiliki arti yaitu melambangkan kebersamaan dan kekuatan.

2. Bagian Rumah

Rumah adat ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan rumah panggung lainnya, ia berbentuk persegi panjang yang di dalamnya terdapat ruang berbeda-beda. Rumah adat satu ini memiliki tinggi sekitar 1,75m jika diukur dari tanah.

Berbeda dengan jenis rumah yang setiap ruangannya diberi sekat, rumah adat Batak ini justru sebaliknya. Rumah Bolon terdiri dari ruangan besar tanpa sekat sehingga menjadikannya lebih luas dan lapang.

Namun, perlu diketahui meskipun tanpa sekat setiap ruangan di rumah adat ini dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya sebagai berikut:

  • Jabu Bona

Jabu bona merupakan bahasa Batak yang berarti ruang yang terdapat di sudut belakang. Ruangan ini terdapat sebelah kanan sedangkan untuk sebelah kiri atau depan sudut kanan disebut dengan Jabu Soding.

Jabu Bona ini digunkan sebagai tepat berkumpulnya para kepala keluarga atau para lelaki. Sedangkan jabu soding digunakan sebagai tempat berkumpulnya istri atau para tamu perempuan serta menjadi tempat khusus anggota rumah yang berjenis kelamin perempuan. Jabu Soding biasanya juga digunakan untuk menggelar acara adat.

  • Jabu Suhat

Jabu suhat merupakan ruangan yang berada di sebelah kiri depan dan ruangan yang berada dihadapannya disebut dengan tampar piring.

Jabu Suhat merupakan ruangan yang digunakan sebagai tempat khusus bagi anak tertua laki-laki yang sudah menikah atau berumah tangga. Sedangkan untuk tampar piring digunakan untuk duduknya para tamu yang datang.

  • Jabu Tangatonga ni Jabu Bona

Ruangan satu ini digunakan sebagai tempat untuk berkumpulnya seluruh keluarga besar. Bagian badan rumah adat ini juga disebut sebagai dunia tengah karena semua aktivitas sang penghuni berpusat dan kebanyakan dilakukan di dalam rumah. Beberapa aktivitas yang dimaksud seperti tidur, memasak, berkumpul dengan keluarga dan lainnya.

Selain itu, di beberapa bagian rumah dipasang ornamen dan dilengkapi dengan hiasan-hiasan. Bukan sembarang hiasan karena ia berwujud ipon yang dipercaya dapat menolak bala atau kesialan bagi penghuninya.

3. Dinding rumah

Jika biasanya dinding rumah didesain vertikal atau tegap, rumah adat Bolon justru didesain dengan bentuk miring. Alasan dibalik bentuknya yang miring yaitu, supaya angin bisa dengan mudah masuk ke dalam ruangan.

Dinding rumah Bolon sangat kuat karena terbuat dari kayu yang saling direkatkan dengan menggunakan tali. Suku Batak menggunakan tali pilihan untuk mengencangkan setiap bagian kayu yakni tali yang berasal dari ijuk serta rotan.

Supaya tali tidak longgar meskipun termakan waktu, suku Batak menggunakan pola khusus dalam merekatkan tali. Pola yang digunakan tentu sarat akan makna layaknya bagian rumah Bolon lainnya. Makna pola ini yaitu sebagai penjaga penghuni rumah.

Bentuk pola ini sangat unik yaitu pola pengikat layaknya cicak dengan dua buah kepala yang saling berlawanan. Kepala cicak yang saling berlawanan ini menggambarkan kehidupan dalam rumah yaitu perbedaan pendapat dan pandangan namun senantiasa menghormati serta saling menjaga.

4. Pintu Masuk

Mengikuti bentuk dinding, pintu rumah Bolon juga dirancang menjorok ke bagian dalam. Umumnya ukuran pintu ini memiliki tinggi sekitar 1,5 m atau lebih dengan lebar kemiringan sekitar 80 cm. untuk masuk ke rumah berbentuk panggung ini, setiap penghuni yang akan masuk harus membutuhkan tangga terlebih dahulu.

Saat menjumpai rumah adat Bolon, Anda akan menemukan banyak ukiran di bagian depan atau atas pintu, terdapat beraneka ragam ukiran atau Gorga seperti yang telah disebutkan di atas.

5. Lantai

Lantai pada rumah adat suku Batak ini mengandung makna di dalamnya. Di lantai bawah sebagai pengingat manusia bahwa kematian itu ada, bagian tengah bermakna keseharian yang dilakukan manusia sedangkan bagian atas mempunyai arti perkenalan akan dunia para dewa. Lantai rumah adat ini menggunakan papan kayu yang di setiap sudutnya disangga oleh tiang.

6. Bagian Atap

Pada rumah Bolon, bagian atap jauh lebih panjang dibandingkan dengan bentuk rumahnya. Ujung atap rumah didesain lancip baik bagian belakang maupun depan. Selain itu, atap yang lancip ini membuat rumah adat batak ini nampak seperti tapal kuda yang kokoh.

Masyarakat Batak tidak hanya membangun atap, namun juga mengharapkan agar kelak anggota keluarga lebih sukses dan makmur. Atap rumah ini dianggap sebagai bagian yang suci karena ia berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang keramat dan sakral.

Demikian adalah informasi mengenai rumah Bolon yang merupakan rumah adat suku Batak di Sumatera Utara. Sebagai bangunan yang bersejarah dan unik wajib rasanya untuk melestarikan dan menjaga bangunan tersebut.