Rumah Bubungan Lima – Filosofi & Keunikan Rumah Adat Bengkulu

Rumah Bubungan Lima – Filosofi & Keunikan Rumah Adat Bengkulu

Rumah Bubungan Lima merupakan sebuah bangunan tradisional yang memiliki bentuk seperti panggung. Rumah tersebut ditopang oleh banyaknya tiang agar berdiri tegak dan mampu bertahan lama. Rumah ini memiliki ciri khas atapnya yang sedikit menjulang keatas dan menjadikannya terlihat unik.

Dalam rumah adat Bengkulu ini juga terdapat sebuah anak tangga di depan rumah. Tangga tersebut sebagai jalan menuju pintu rumah untuk memasukinya. Menurut masyarakat, jumlah dari anak tangga harus memiliki jumlah yang ganjil. Anak tangga juga biasanya terbuat dari kayu yang semakin memberikan ciri khas dari rumah tradisional tersebut.

Rumah tersebut sengaja dibangun dengan tinggi yang sesuai agar masyarakat dapat melindungi diri dari bencana alam banjir serta tahan terhadap gempa bumi. Selain itu, rumah ini juga dijadikan tempat berlindung dari hewan buas yang berkeliaran pada zaman dahulu. Kolongnya sendiri biasanya dipakai untuk menyimpan binatang ternak atau hasil pertanian.

Fakta Rumah Adat Bubungan Lima

Fakta Rumah Adat
Image Credit: Twitter.com @suwardi0107

1. Bentuk Umum

Rumah adat ini memiliki susunan atap yang menjulang tinggi dan rapi. Pada bagian atapnya juga terdapat beberapa ijuk dari pohon enau. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, rumah ini didesain khusus sebagai bangunan anti gempa bumi.

Pada bagian rumah juga terdapat banyak tiang sebagai penopang bangunan. Tinggi tiang tersebut mencapai 1,8 meter. Jumlah dari keseluruhan penopang dari setiap Rumah Bubungan Lima harus berjumlah 15 tiang.

Rumah ini dibangun dengan bahan dasar kayu kemuning yang memiliki fisik lentur. Namun, bangunan ini sudah dapat dipastikan mampu bertahan hingga ratusan tahun lamanya. Terdapat pula banyaknya papan halus untuk membangun bagian lantainya.

Anak tangga yang berjumlah ganjil juga tidak dapat diganti menjadi genap. Hal ini dikarenakan menyangkut dengan kepercayaan dari zaman dahulu yang masih diterapkan masyarakat Bengkulu hingga era modern ini.

2. Desain Atap

Atap dari rumah adat Bengkulu biasanya terbuat dari bambu yang kuat. Namun, kini sebagian masyarakat sudah ada yang mengganti bahan tersebut dengan seng. Hal ini dikarenakan seng lebih mampu bertahan lama dibandingkan bambu yang harus melakukan pembaharuan secara bertahap.

Terdapat pula pelupuh dari bambu sebagai bahan plafon dalam rumah tradisional tersebut. Bagian atas rumah serta atap sudah memiliki desain yang terhubung dengan menggunakan kayu yang telah menempel pada sebuah kap.

3. Bangunan Tengah Rumah

Desain yang dihadirkan dalam tengah rumah mempunyai bahan dasar kayu balam untuk kerangkanya. Sementara bagian dinding rumah menggunakan papan kayu yang dibuat secara rapi dan halus.

Dalam tengah rumah juga terdapat penghubung dari setiap tiangnya yang terbuat dari balok kayu. Penghubung tersebut berjajar pada setiap dinding rumah yang ditata dengan rapi.

4. Keadaan Bagian Bawah

Bagian dasar atau bawah dari bangunan ini juga masih menggunakan bahan bambu serta papan kayu. Papan kuat yang dibangun tersebut dapat melindungi dari berbagai hewan buas yang masuk ke dalam kolong rumah.

Selain itu, juga tersedia sebuah batu besar yang datar pada bagian tengah dalam dasar bangunan. Batu tersebut digunakan untuk dapat menopang bangunan ketika terjadi gempa bumi besar.

5. Adanya Berendo

Rumah Bubungan Lima Bengkulu ini memiliki sebuah tempat untuk bersantai atau beristirahat bernama Berendo. Tidak hanya sebagai ruang keluarga, Berendo juga memiliki banyak fungsi lainnya.

Area bernama Berendo ini terkadang digunakan sebagai ruang tamu. Berendo juga dapat digunakan sebagai ruang bermain anak dengan desain tradisional yang sejuk dan nyaman.

Fakta Rumah Adat Bubungan Lima
Image Credit: Artisanalbistro.com

6. Desain Dapur

Dalam rumah tradisional asal Bengkulu ini, aturan area ruang makan dengan dapur harus berdekatan. Pada bagian dapur sendiri juga tersedia sebuah Gerang yaitu area untuk menyimpan air.

Persediaan air yang disimpan tersebut biasa digunakan untuk mencuci berbagai peralatan dapur. Hal ini agar masyarakat zaman dahulu tidak perlu jauh pergi ke kali hanya untuk membersihkan perabotan makan.

7. Hall Sebagai Ruang Tamu Khusus

Dalam Rumah Bubungan Lima juga tersedia sebuah area untuk melakukan penerimaan tamu bernama Hall yang sudah dikenal masyarakat. Area ini biasanya digunakan untuk menjamu tamu dari kalangan tokoh masyarakat.

Selain digunakan untuk tamu khusus, area ini juga biasa dipakai ketika datangnya kerabat dekat atau berkumpulnya keluarga besar saat ada acara dan hari raya. Ruangan yang besar ini memberi kesan keharmonisan keluarga yang indah.

8. Desain Kamar Tidur

Dalam rumah adat ini, terdapat dua jenis kamar tidur di dalamnya yakni Bilik Gedang dan Bilik Gadis. Untuk Bilik Gedang sendiri merupakan tempat tidur khusus suami istri. Namun, bagi anak yang masih kecil juga diperbolehkan tidur dalam Bilik Gedang ini.

Sedangkan jika anak sudah tumbuh dewasa maka harus tidur di kamar bernama Bilik Gadis. Posisi kedua kamar ini bersebelahan yang ditata dengan rapi serta memiliki konsep yang tenang.

9. Fungsi Unik Ruang Tengah

Ruangan tengah ini biasanya digunakan untuk ruang penerima tamu atau berkumpul keluarga dalam rumah secara umum. Namun, berbeda dengan Rumah Bubungan Lima ini yang memiliki ruang tengah dengan fungsi sebagai tempat menyimpan banyaknya perabotan.

Ruang ini juga dapat digunakan untuk menerima tamu khusus dari kalangan ibu-ibu saja. Biasanya anak laki-laki juga akan tidur di ruangan ini ketika malam hari.

Filosofi Rumah Adat Bubungan Lima Bengkulu

Filosofi Rumah Bubungan Lima
Image Credit: Guratgarut.com

1. Diadakannya Ritual

Rumah adat ini biasa digunakan oleh masyarakat sebagai tempat tradisi penolakan penyakit. Upacara adat tersebut biasanya dilakukan ketika telah menyelesaikan pembangunan rumah dimana sebuah Bubungan atau bagian atap akan segera dinaikkan.

Dalam Bubungan akan disimpan berbagai jenis hasil panen masyarakat sebagai persembahan untuk penolakan bala atau penyakit. Hasil panen tersebut diantaranya yaitu tebu berwarna hitam, pisang mas satu tandan, dan makanan lainnya. Terdapat pula kain putih yang disimpan pada bagian tulang yang sudah dirajah sebelumnya.

2. Posisi Bentuk Limas

Dalam setiap rumah adat pasti memiliki filosofi tersendiri pada karakteristik bangunannya. Dalam Rumah Bubungan Lima juga memiliki ciri khas khusus yakni adanya atap yang memiliki desain berbeda dari umumnya. Atap tersebut harus membentuk sebuah Limas dengan tinggi bangunan 3,5 meter.

Ciri khas ini sama seperti jumlah anak tangga yang harus mengikuti aturan sesuai bentuk yang telah ada karena berhubungan dengan kepercayaan tertentu. Anda tidak dapat dengan bebas mengubah bentuk dari bangunan ini karena dari setiap bagiannya memiliki arti tersendiri.

Keunikan Rumah Adat Bubungan Lima

Keunikan Rumah Adat
Image Credit: Twitter.com @RenataDiyanra

1. Adanya Rengkiang

Rumah Bubungan Lima, Rumah Adat Bengkulu ini memiliki sebuah Rengkiang atau lumbung padi. Rengkiang ini tentu saja hanya ada dalam rumah masyarakat yang memiliki mata pencaharian sebagai petani. Padi yang disimpan tersebut diolah menjadi bahan makanan pokok ataupun dijual kepada tetangga yang membutuhkan.

Letak penyimpanan Rengkiang sendiri berada di dalam dapur. Hal ini tentu untuk memudahkan pemilik rumah agar segera menumbuk padi dan memasaknya dengan cepat. Orang di rumah tidak perlu repot berjalan jauh ketika akan mengolah padi. Rengkiang juga sangat berguna sebagai tempat penyimpanan bahan makanan agar menjadi solusi ketika sedang menghadapi musim kemarau.

2. Keunikan Bentuk Beranda

Pada depan beranda terdapat sebuah gambar berbentuk Buraq yang memiliki arti dari keteguhan masyarakat yang tinggal disana dalam belajar agama. Selain belajar, lambang tersebut juga memberitahukan kepada tamu bahwa warga sangat rajin menjalankan perintah agama mengingat sebagian besar dari mereka menganut ajaran Islam.

Area beranda juga dilengkapi dengan berbagai bangku panjang, kursi, serta meja tamu yang indah. Beranda ini bisa digunakan untuk menerima tamu dari berbagai jenis kalangan mulai dari teman biasa hingga tamu resmi. Beranda juga dapat digunakan untuk menjamu tamu luar daerah yang datang ke Bengkulu untuk berlibur dan keperluan lainnya.

Selain itu, terdapat pula anak beranda yang terletak di depan ataupun samping rumah dengan ukuran 1,2 x 1,5 meter. Anak beranda ini biasanya berfungsi untuk menyimpan banyaknya sandal yang biasa digunakan pemilik rumah untuk sehari-hari. Pihak tamu yang berkunjung pun juga dapat menyimpan sepatu atau sandalnya dalam anak beranda ini.

3. Tempat Mengajar

Mungkin dalam rumah modern tempat belajar anak adalah sebuah meja dengan berbagai buku dalam rak. Berbeda dengan Rumah Bubungan Lima yang menjadikan area dapur sebagai tempat mengajar. Sejak zaman dahulu orang tua harus menasihati ataupun mengajari anaknya di area dapur saja. Hal ini agar tidak mengganggu konsentrasi sang anak ketika kedatangan tamu.

Keunikan Rumah Bubungan Lima
Image Credit: Dosenpendidikan.co.id

4. Bentuk Jendela

Desain jendela yang terdapat dalam rumah tradisional ini tidak berbentuk persegi seperti umumnya. Dalam rumah ini hanya diperbolehkan membangun dua jendela saja pada bagian depan dan belakangnya. Setiap jendela harus memiliki bentuk bulat dengan posisi memanjang. Untuk jendela depan sendiri memiliki aturan dimana ukurannya harus 30 x 60 centimeter.

Sedangkan untuk bagian belakangnya harus memiliki ukuran lebih kecil yakni 20 x 20 centimeter. Aturan pembuatan jendela ini telah turun-temurun dilakukan sejak zaman dibangunnya rumah adat ini yaitu sekitar tahun 1916. Hingga kini tidak ada masyarakat yang mengganti bentuk dari jendela tersebut ketika membangun sebuah Rumah Bubungan Lima.

5. Aturan Duduk

Jika anda tinggal di Bengkulu dan tinggal dalam sebuah Rumah Bubungan Lima, wajib untuk mengetahui hal ini. Rumah tradisional ini memiliki bentuk persegi empat secara bertingkat. Aturan dalam rumah ini, untuk sebuah Penigo harus lebih rendah dari Panduhuak. Jika Anda adalah seorang menantu, maka batasan duduk hanya diperbolehkan hanya dalam area dapur dan Penigo saja.

Bagi Anda yang belum mengetahuinya, tentu saja terdapat perbedaan makna dari Penigo dan Panduhuak ini. Penigo sendiri merupakan tempat menerima tamu yang biasanya datang dari kalangan keluarga ataupun bersifat resmi. Sedangkan Panduhuak adalah sebuah tempat untuk menyimpan berbagai barang dan pakaian milik keluarga.

Itulah informasi dari fakta, filosofi dan serta keunikan dari Rumah Adat Bubungan Lima Bengkulu yang telah dijelaskan dengan rinci. Anda dapat berkunjung ke Kota Bengkulu untuk merasakan langsung kenyamanan dari rumah tradisional tersebut. Anda juga dapat berlibur dengan melakukan foto disana sebagai salah satu kenangan yang berkesan.