Masjid Raya Sumatera Barat, Masjid Megah & Unik yang Dirancang Tahan Gempa

Masjid Raya Sumatera Barat, Masjid Megah & Unik yang Dirancang Tahan Gempa

Masjid Raya Sumatera Barat salah satu destinasi religi yang menarik dikunjungi di Kota Padang. Masjid megah bernuansa adat minang ini memiliki konstruksi bangunan yang unik dan direncang tahan gempa.

Harga Tiket: Gratis; Map: Cek Lokasi
Alamat: Jl. Khatib Sulaiman, Alai Parak Kopi, Kec. Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat.

Masjid Raya Sumatera Barat merupakan bangunan masjid yang memiliki arsitektur unik. Arsitektur masjid tersebut tidak memiliki kubah seperti masjid-masjid pada umumnya. Pada Masjid raya ini, berbentuk lancip pada ujung kiri dan kanan, yang mana ada 4 ujung. Sehingga nampak seperti rumah gadang.

Konstruksi Masjid Raya Sumbar ini memiliki 3 lantai utama. Lantai kedua yang menjadi ruang utama, dimanfaatkan sebagai tempat salat, yang mana dapat menampung jama’ah sebanyak 20.000 orang. Karena masjid ini merupakan masjid terbesar yang ada di Sumatera Barat. Selain itu tempat parkir Masjid tersebut juga sangat luas.

Sebab itulah Masjid Raya menjadi ikon Kota Padang. Selain itu, bangunan unik yang dimiliki masjid ini juga menjadikannya sebagai tempat wisata religi. Biasanya banyak fotografer yang datang untuk mengambil gambar. Meskipun demikian, tetap saja fungsi utama masjid ini adalah untuk salat dan beribadah.

Daya Tarik yang Dimiliki Masjid Raya Sumatera Barat

Daya Tarik Masjid Raya Sumatera Barat
Image Credit: Instagram.com @elbuho_photograf

1. Masjid Bernuansa Adat Minang

Hal menarik yang ada di Masjid ini adalah adat Minangnya yang begitu kental. Hal ini dapat dilihat corak atau ukiran dindingnya. Ukiran tersebut sangat khas adat Minangkabaunya. Pengunjung pun dapat melihatnya di ruang utama.

Selain itu, pada bagian mihrobnya dibuat seperti hajar aswad yang ada di Makkah. Di sekitarnya terdapat ukiran asmaul husna yang dibuat berwarna emas. Adapun kaligrafi-kaligrafi yang terpampang indah di ruang utama.

2. Tidak Memiliki Kubah

Masjid raya Sumatera Barat tidak memiliki kubah, melainkan dibuat mirip rumah gadang. Dimana bentuknya adalah segi empat, disetiap ujungnya dibentuk lancip yang menjulang ke atas menggunakan baja.

Meskipun demikian, sebenarnya 4 sudut lancip dari atap Masjid raya ini memiliki arti yang islamik. Dimana 4 sudut tersebut merupakan wujud simbolik 4 kain yang digunakan oleh khulafaur rasyidin untuk memindahkan batu dari surga, yakni Hajar Aswad.

Selain itu, maksud dari atap yang tidak ada kubahnya adalah wujud dari adat yang di dasarkan atau disyariatkan oleh agama Islam. Dimana dasar yang digunakan sesuai Al-Qur’an dan Hadist.

BACA JUGA:  10 Restoran & Tempat Makan di Bukittinggi yang Paling Enak
Daya Tarik Masjid Raya Padang Sumatera Barat
Image Credit: Instagram.com @wallpaperislami

3. Masjid dengan 1000 Pintu Angin

Desain masjid yang diketuai oleh Rizal Muslimin ini memiliki julukan Masjid dengan 1000 Pintu Angin. Hal tersebut dikarenakan Masjid Raya Sumatera Barat ini memiliki pintu yang sangat banyak. Sehingga nampak indah dan megah.

Namun bukan itu saja yang membuat masjid ini nampak megah, tetapi juga menara tinggi yang ada di samping masjid. Menara tersebut mempunyai corak layaknya Masjid Nabawi, yaitu Masjid yang ada di Madinah.

4. Tahan Terhadap Gempa

Masjid ini memang sengaja dibuat tahan gempa oleh para arsitekturnya. Ketahanan masjid terhadap gempa yaitu bermagnitudo 10. Lahan yang digunakan pun sangat luas, yaitu sekitar 40.343 m2 .

Oleh sebab itu, tempat ini dapat menampung banyak jama’ah, yakni sekitar 20.000 jama’ah. Selain itu, ada juga lahan parkir yang memang sengaja dibuat sangat luas.

Alamat & Rute Menuju Lokasi Masjid Raya Sumatera Barat

Alamat Masjid Raya Sumatera Barat
Image Credit: Instagram.com @sipenjelajah

Mudah sekali untuk menjumpai Masjid Raya yang ada di Sumatera Barat ini. Sebab letaknya berada di pusat Kota Padang. Lebih tepatnya di Kecamatan Padang Utara. Andapun bisa mencari Jalan Khatib Sulaiman yang ada di kelurahan Parak Kopi. Untuk lebih jelasnya Anda bisa mencarinya di Google Maps.

Untuk menuju tempat ini ada beberapa rute yang bisa Anda lewati. Jika Anda berangkat dari Bukittinggi, Anda bisa melewati Jambu Air. Kemudian lanjutkan ke Padang Lua yang disusul Sungai Pua.

Setelah sampai Anda bisa ke Koto Baru dan pergi ke Ale Angek. Selanjutnya ke Panyalaian yang disambung ke Padangpanjang. Berikutnya menuju ke arah silaing dan Lembah Anai. Kemudian Kayu Tanam dan Kapalo Hilalang. Setelah itu ke Sicincin, Kiambang, Parit Melintang, Lubuk Alung dan Buayan.

Perjalanan Anda masih panjang, Anda pun masih harus melewati Sungai Buluh, pasar Usang, Duku, Padang Sarai, Anak Air, dan Tabing. Nah, baru Anda sampai di Jalan prof Hamka yang berlanjut ke Jalan Khattib Sulaiman dan Andapun sampai tujuan.

Rute yang ke dua jika Anda dari Padang, maka Anda tinggal langsung saja ke Jalan Khattib Sulaiman. Sebab letak Masjid Raya di Jalan tersebut. Adapun rute-rute lain yang bisa Anda jumpai seperti dari Solok, Padang Panjang, dll.

BACA JUGA:  10 Restoran & Tempat Makan di Dharmasraya yang Paling Enak

Saat Anda berlibur ke tempat ini Anda bisa menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Untuk Anda yang berasal dari luar kota maupun luar Pulau Sumatera Anda bisa naik pesawat ke Padang ataupun menggunakan jalur laut.

Fakta dan Sejarah Masjid Raya Sumatera Barat

Fakta dan Sejarah Masjid Raya Sumatera Barat
Image Credit: Instagram.com @febrianazhar.id

Sebenarnya rencana pembangunan Masjid Raya sudah ada sejak tahun 2005. Sebab Pemerintah setempat menganggap Padang belum memiliki Masjid yang bisa menampung jama’ah yang banyak.

Apalagi pertemuan antara dua kepala negara, yakni Malaysia dan Indonesia yang saat itu dipimpin Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Yang mana panitianya bingung memilih masjid yang tepat untuk salat Jumat. Sehingga masjid Agung Tangah Sawah di Bukittinggi yang dipilihnya.

Hal inilah yang menjadi latar belakang dibangunnya Masjid Raya di Sumatera Barat ini. Dikarenakan masalah historis, Masjid ini pun akhirnya dibangun di Jalan Khattib Sulaiman. Untuk desainnya sendiri pemprov setempat mengadakan sayembara di tahun 2006.

Sayembara tersebut diikuti oleh peserta sebanyak 323 orang dengan desainnya sebanyak 71 desain. Sayembara ini diseleksi oleh juri. Hadiahnya juga sangat besar yakni sekitar Rp 150 hingga Rp 300 juta. Akhirnya desain Rizal Muslimin yang dipilih dengan bentuknya yang unik tanpa kubah.

Namun hal itu menuai banyak polemik, hingga polemik tersebut reda dengan sendirinya akibat adanya gempa di tahun 2007. Sehingga di tahun tersebut tepatnya 21 Desember, bangunan ini resmi dimulai. Hal ini ditandai dengan diletakkannya batu pertama.

Fasilitas yang Tersedia di Masjid Raya Sumatera Barat

Fasilitas di Masjid Raya Sumatera Barat
Image Credit: Instagram.com @masjidhunter_id

Masa demi masa masjid ini terus melakukan perbaikan serta pembangunan. Sehingga fungsi Masjid Raya ini tak hanya sebagai tempat ibadah saja, namun juga wisata religi, tuan rumah kegiatan keagamaan, dan sejenisnya.

Oleh sebab itu, fasilitas yang dibangun di Masjid ini sangat bervariatif. Diantarannya adalah taman, dan area parkir yang sangat luas, Air bersih, serta listrik yang memadai.

Andapun bisa memanfaatkan taman yang ada untuk tempat membaca Al-Qur’an. Pasti sangat meresapi sekali. Masjid Raya ini pun juga menyediakan Al-qur’an serta peralatan salat. Sehingga tak perlu khawatir jika tak bawa mukenah.

Selain itu rencananya tempat ini akan dibangun Pondok Alqur’an, super market, dan ruang studi islam. Sehingga pengunjung bisa belajar ilmu agama lebih dalam di Masjid ini.

BACA JUGA:  10 Tempat Wisata di Padang Pariaman Terbaru & Terhits Dikunjungi

Gaya Arsitektur Masjid Raya Sumatera Barat

Gaya Arsitektur Masjid Raya Sumatera Barat
Image Credit: Instagram.com @setiyono_bambang

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Masjid Raya Sumatera Barat ini memiliki banyak keunikan. Dimana keunikannya tersebut memiliki makna yang luar biasa. Salah satunya adalah kain yang digunakan untuk memindahkan Batu Hajar Aswad.

Hal ini terjadi saat suku Quraisy Mekkah berselisih pendapat tentang siapa yang berhak memindahkan batu tersebut saat renovasi ka’bah selesai. Sehingga nabi Muhammad Saw memutuskan untuk meletakkan Batu pada sehelai kain dimana setiap ujungnya ada perwakilannya yang memegang. Inilah inspirasi membuat Masjid tanpa kubah.

Denah dasar dari Masjid satu ini luasnya adalah 4.430 m2 pada bangunan utamanya. Konstruksinya dirancang untuk menyesuaikan kondisi Provinsi Sumatera Barat yang sering kali terjadi gempa dengan kekuatan besar. Sehingga ada sekitar 631 tiang yang menopang masjid ini. Masing-masing berkedalaman 7,7 m dengan diameter 1,7 m.

Saat itu kondisi topografi Masjid Raya ini keadaannya masih berupa rawa. Sehingga kedalaman fondasinya tidak dipatok, sebab hal ini untuk penyesuaian titik jenuh terhadap tanah.

Konstruksi yang digunakan untuk kerangka atap adalah pipa baja. Gaya vertikal pada beban atap disalurkan oleh 4 kolom beton yang miring. Tinggi yang dimilikinya adalah 47 m dengan pertemuan antara kolom beton miring yang membentuk diagonal dengan dua balok beton yang melengkung.

Pada kolom-kolom yang miring, ditancapkan ke tanah. Kedalaman untuk menancapkan kolom tersebut sekitar 21 m. Adapun fondasi tiang bor yang berjumlah 24 titik dengan 80 cm sebagai diameternya. Hal ini dikerjakan selama 108 hari, yang mana tahap pengecorannya sebanyak 13 tahap.

Biaya dalam mengelola masjid ini tidaklah sedikit, yakni sekitar Rp 4,2 miliyar per tahunnya. Hal ini juga berlaku sebagai biaya operasional masjid, perawatan konstruksi, petugas, mekanikal, dan perawatan. Sehingga tak heran jika biaya pengelolaannya menelan anggaran yang cukup besar.

Itulah beberapa informasi tentang Masjid Raya Sumatera Barat. Masjid yang kini menjadi ikon Kota Padang saat ini. Andapun bisa beribadah sambil berwisata religi di tempat ini. Sebab konstruksi yang unik serta banyaknya fasilitas yang diberikan, membuat pengunjungnya betah berlama-lama di tempat ini.